Bisnis itu Sederhana

KESUKSESAN PEDAGANG keturunan Tionghoa kerap mengundang kekaguman. Tak perlu menyimpan rasa iri, pandanglah kesuksesan orang lain secara positif. Banyak nilai-nilai yang menjadikan bisnis mereka terus berkembang hingga beberapa generasi, yang bisa diteladani oleh siapa pun. Uniknya, kesuksesan tersebut tumbuh bukan dari ilmu bisnis yang mahacanggih, melainkan nilai nilai bisnis yang sederhana, namun dilakukan dengan penuh kesungguhan dan terus-menerus.

Pabrik Tahu Bandung

Dimulai sejak tahun 1923, Tahu Talaga Yun Sen menjadi salah satu produsen tahu tertua di Bandung. Pabriknya terletak di salah satu gang di Jalan Sudirman No.227, Bandung. Didirikan
oleh Liaw Pak Pin, kini pengelolaannya dilanjutkan oleh generasi ketiganya, A. Hendra
Gunawan dan Vivi Liana.
Dari hanya memenuhi permintaan pelanggan di daerah sekitar pabrik, 91 tahun kemudian Tahu Talaga Yun Sen masih eksis, bahkan terus membesar. Tak hanya bisa didapat di pecinan
Bandung, kini Tahu Talaga Yun Sen juga dapat diperoleh di beberapa pusat perbelanjaan: Paris Van Java Bandung, Cihampelas Walk Bandung, Summarecon Mal Serpong, dan Summarecon Mal Bekasi.
Apa kiat bisnis dari pendahulu yang masih dipertahankan dan apa yang tidak?

Melayani Langsung

Bisnis itu SederhanaSalah satu ciri khas toko milik keturunan Tionghoa zaman dahulu adalah pemilik toko sendiri yang akan menyambut pelanggan. Hal ini rupanya masih dipertahankan oleh Hendra, yang sehari-harinya turun langsung di pabrik yang sekaligus merangkap toko ini. Meski tak tiap saat berhadapan langsung dengan pembeli, ia dengan mudah ditemui di jam-jam ramai pembeli, seperti akhir pekan.
“Dari zaman kakek saya sudah begitu. Berdasarkan pengalaman, orang Bandung lebih senang kalau dilayani langsung oleh pemilik toko,” ujar Hendra.

Menjaga Kepercayaan

Orang tua Hendra selalu berpesan, salah satu yang harus ia jaga dalam bisnis keluarga yang dijalaninya ini adalah kepercayaan pelanggan.
“Jangan pernah bohong pada pelanggan,” ujar Hendra menirukan pesan ayahnya, A. Yuliman. Kalau bilang sekilo, ya, harus betul-betul sekilo.
Kalau bilang tanpa pengawet, harus benar-benar tanpa pengawet. Sekali saja kepercayaan itu rusak, maka akan sulit sekali untuk membangunnya kembali. Itu sebabnya, sejak dahulu pelanggan yang datang dan akan membeli tahu ke pabriknya bisa melihat langsung proses pengolahan kedelai menjadi tahu, open kitchen istilahnya sekarang. Customer service yang baik pun selalu ia tegaskan pada karyawannya. Seperti kata Confusius, filsuf Tiongkok, “Kalau Anda tidak bisa tersenyum, tidak usah membuka toko.”

Selangkah Lebih Maju

Menghadapi kompetisi pasar, kiat sukses yang dipercaya oleh Hendra adalah memberi nilai plus dari produk yang dijual. Meski berlatar belakang sarjana teknik mesin, Hendra belajar dari
berbagai buku bisnis dan pemasaran.
“Kita harus memberi alasan mengapa orang harus membeli produk kita, bukan yang lain. Kita juga selalu selangkah lebih maju dari kompetitor,” ungkapnya. Ketimbang menjelekjelekkan
produk lain, ia memilih fokus pada produk sendiri.
Itu sebabnya, pelanggan kini tak hanya bisa membeli tahu di pabrik dan warungnya, tapi juga berbagai olahan tahu lainnya, seperti pepes tahu, puding kedelai, yoghurt susu kedelai, dan aneka camilan vegetarian berbahan dasar tahu. Ia selalu yakin, ada kesempatan di tiap rintangan.

Ikut Perkembangan Zaman

Selain memodifi kasi cara pengolahan supaya lebih higienis, resep pembuatan tahu Yun Sen yang disukai masyarakat sejak dulu memang masih sama dengan puluhan tahun lalu. Tapi, tak semua strategi bisnis dari pendahulunya ia pertahankan.
Menurut Hendra, berbeda dengan pendahulunya yang mungkin masih mengandalkan fengsui untuk mengembangkan bisnis, ia dan adiknya kini tak lagi ingin direpotkan oleh hitungan fengsui. Baik Hendra maupun Vivi lebih memilih menerapkan ilmu bisnis modern.

Sumber : Majalah Femina